Senin, 23 Mei 2016

MAKNA NAMA ALLAH: AL-AZIIZ


MAKNA NAMA ALLAH: AL-AZIIZ

Segala puji hanya bagi Allah Subhana wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya… Amma ba’du:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim pada sebauh hadits dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, tidaklah seseorang menghafalnya/menjaganya kecuali dia akan masuk surga, dan Dia ganjil serta senang dengan bilangan yang ganjil”, di dalam sebuah riwayat disebutkan: “Dan barang siapa yang menghitungnya maka dia akan masuk surga”.
Di antara nama-nama Allah Azza wa Jalla yang baik adalah Al-Aziiz, Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Al-Aziiz artinya (yang kuat, yang tidak dijangkau dan tidak pula dikalahkan). Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Al-Aziiz, yaitu yang menundukkan segala sesuatu dan mengalahkannya, yang menaklukkan segala sesuatu maka tidak seorangpun yang dapat menghina karena kekuatan, keagungan, keperkasaan dan kebesaran yang dimilikinya.
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Al-Izzah mengandung tiga hal:
1. Mulia dengan kekuatan, makna ini ditunjukkan oleh asma Allah Al-Qowwi dan Al-Matiin.
2. Mulia dengan kekokohan, Dia adalah Allah Zat Yang Maha Kaya. Dia tidak membutuhkan seorangpun dan tidak seorangpun yang mampu memberikan kemudharatan bagi-Nya atau memberikan manfaat kepada-Nya, Dia-lah Allah Yang Maha Kuasa memberikan manfaat dan mudharat, yang memberi dan mencegah.
3. Mulia karena Dia mampu menundukkan segala sesuatu, mengalahkan segala hal, semuanya tunduk bagi Allah Azza wa Jalla dan takluk pada kebesaran-Nya, pasrah pada semua kehendak-Nya, tidak ada sesuatu apapun bergerak di alam ini kecuali dengan kekuasaan dan kekuatan Allah Subhana wa Ta’ala.
DALIL NAMA ALLAH: AL-AZIIZ

Sebagian mereka berkata, “Kata Al-Aziiz di dalam Al-Qur’an disebutkan sejumlah tujuh puluh dua kali. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Baqarah/2: 260).
Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:
وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (QS. Ali Imron/3: 4).
Dan Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Yasin/ 38)

DAMPAK MENGIMANI NAMA ALLAH AL-AZIIZ

Di antara manfaat yang didapatkan dengan beriman kepada nama Allah Subhana wa Ta’ala ini adalah:
1. Beriman kepada Allah Subhana wa Ta’ala di mana di antara nama-Nya adalah Al-Aziiz yang berarti tidak akan pernah dikalahkan, ditundukkan. Beriman kepada nama ini akan menanamkan rasa berani dan kepercayaan kepada Allah Azza wa Jalla, sebab makna yang tersirat dari nama ini adalah bahwa tidak seorangpun yang mampu mencegah dan menolak perintah Allah Subhana wa Ta’ala, dan apapun yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi sekalipun seluruh manusia tidak menghendakinya dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi sekalipun seluruh manusia mengharapkannya terjadi. Dan seorang yang merenungkan kisah-kisah para nabi dan rasul akan melihat kejelasan perkara tersebut, seperti kisah Nabi Musa Alaihis salam, pada saat Fir’aun berupaya mencegah terlahirnya seorang bayi laki-laki (yang akan mengambil kekuasaannya), dia memerintahkan untuk membunuh seluruh bayi laki-laki bani Israil yang terlahir, sebab dia telah mengetahui bahwa bayi yang akan mencabut kekuasaannya akan terlahir dari kaum bani Israil, namun Allah Yang Maha Mulia enggan kecuali menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir merasa benci. Maka Musapun terlahir dan besar di dalam istana Fir’aun, di dalam rumahnya, dalam pengawasannya lalu pada saat dia berusaha membunuhnya maka Allah-pun membinasakan Fir’aun, berserta panglima tinggi militernya, Haman dan seluruh tentaranya. Dan banyak lagi kisah-kisah yang lain.
2. Orang yang mulia di dunia dan akhirat adalah orang yang dimuliakan oleh Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imron/3: 26)
Maka barangsiapa yang menginginkan kemuliaan maka hendaklah dia memintanya dari Allah Azza wa Jalla Yang memiliki kemuliaan. Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا
Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. (QS. Fathir/35: 10).
Artinya barangsiapa yang ingin menjadi mulia di dunia dan akhirat maka hendaklah dia selalu taat kepada Allah Subhana wa Ta’ala, dengan itu segala keinginannya akan tercapai sebab Dia yang menguasai dunia dan akhirat, segala kemuliaan menjadi milik Nya. Allah telah mencela suatu kaum yang mencari kemuliaan kepada selain Allah, mereka menjadikan musuh-musuh Allah, dari orang-orang sebagai wali mereka, mereka menyangka bahwa inilah jalan dan jalur menuju kemuliaan itu. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (QS. Al-Nisa’/4: 139)
Semakin tinggi ketaatan seseorang maka semakin besar kemuliaannya, orang yang paling mulia adalah para nabi, kemudian orang-orang yang lebih rendah dari mereka, yaitu golongan orang-orang yang beriman yang mengikuti para nabi itu.
Fakhruddin Al-Rozi berkata, “Dan kemuliaan seseorang tergantung pada ketinggian mereka dalam beragama, maka setiap kali sifat ini lebih sempurna maka dorongan kepada yang negatif akan lebih sedikit dan dia akan lebih mulia dan lebih tinggi.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, (QS. Al-Munafiqun/63: 8)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kaum Anshar: “Tidakkah dulunya kalian adalah kaum yang hina kemudian dimuliakan oleh Allah?”.
Amirul mu’minin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, bagaimanapun usaha kita untuk mencari kemuliaan dengan selain Islam maka kita akan dibuat hina oleh Allah”.
Dan di antara dio’a yang selalu dilantunkan oleh ulama salaf adalah:
اللهم أعِزَّنا بِطَاعَتِكَ، وَلَا تُذِلَّنا بِـمَعْصِيَتِكَ
Ya Allah muliakan kami dengan ketaatan kepada-Mu dan janganlah hinakan kami dengan kemaksiatan kepada-Mu.
Maka orang yang taat akan hidup mulia, dan pelaku maksiat hidup terhina. Oleh karena itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad di dalam musnadnya dari Ibnu Umar, “Dan Allah Subhana wa Ta’ala menjadikan kehinaan dan kehinaan pada orang yang menyalahi perintahku”.

3. Kita meminta kepada Allah Ta’ala dan bersimpuh di hadapannya dengan nama yang agung ini, yaitu nama Al-Aziiz. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dalam sunannya dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau mengeluhkan suatu penyakit maka letakkanlah tanganmu pada bagian tubuh yang sakit lalu bacalah:
بِسْمِ اللهِ، أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ مِنْ وَجَعِي هَذَا
“Dengan menyebut nama Allah, aku berlindung dengan kekuatan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku rasakan pada penyakitku ini”. Kemudian hendaklah dia mengangkat tangannya dan ulangilah hal itu dalam jumlah yang ganjil”.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يـَمُوتُ وَالْـجِنُّ وَالْإِنْسُ يـَمُوتُونَ
“Ya Allah aku berlindung dengan kekuatan-Mu, tidak ada Tuhan yang patut disembah dengan sebenarnya kecuali Dirimu, janganlah sesatkan aku ini, Engakau Maha Hidup sementara jin dan manusia akan mati semua”.
4. Di antara sebab kemuliaan seseorang dan kedudukannya yang tinggi adalah memaafkan dan merendahkan diri. Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu harta itu berkurang karena shedekah, dan tidaklah Allah menambahkan bagi seorang hamba yang bersifat pemaaf kecuali dengan kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba merendah diri kecuali Allah akan mengangkatnya”. Maka barangsiapa yang memaafkan kesalahan seseorang padahal dia mampu membalas maka dia akan menjadi orang yang besar di dalam hati saat hidup di dunia ini dan di akhirat dia akan mendapat pahala yang besar dari Allah. Begitu pula sikap merendah diri, dia adalah kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.
5. Apa yang menimpa kaum muslimin berupa kelemahan, kehinaan, kerendahan dan tertinggal dari umat yang lain pada zaman sekarang ini adalah sebab langsung dari dosa-dosa dan kemaksiatan mereka, mereka menjauhi agama Allah Subhana wa Ta’ala, seandainya mereka berpegang degan ajaran agama ini dan mengamalkan apa yang ada padanya maka Allah Subhana wa Ta’ala pasti memuliakan dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka, dan umat Islam pasti menjadi pemimpin dunia, bangsa-bangsa seperti yang terjadi pada para shahabat radhiallahu anhum, di mana kemenangan-kemenangan mereka telah mencapai belahan timur dan barat dunia. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Nur/24: 55).
Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam musnadnya dari hadits Tamim Ad-Dari bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perkara agama ini pasti sampai meliputi apa yang diliputi oleh siang dan malam dan Allah tidak meninggalkan satu rumah pun baik di perkotaan atau pedesaan kecuali Allah akan memasukkan padanya perkara agama ini dengan menguatkan orang yang mulia dan menghinakan orang yang hina, yaitu kemuliaan yang dengan Islam menjadi mulia dan kehinaan yang dengan kekufuran menjadi terhina.” Tamim Ad-Dari berkata, “Aku telah mengetahui realita ini dari keluargaku, sebab orang yang telah masuk Islam dari mereka mendapat kebaikan, kemuliaan dan kekuatan sementara orang yang kafir dari mereka mendapat kehinaan, kerendahan dan diwajibkan membayar jizyah.”
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.[]

Penjelasan Nama Allah_ Al-Aziiz
Oleh : Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi
Terjemah: Muzaffar Sahidu
Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad

Diambil dari web www.IslamHouse.com
Sebagian Sub Judul dari Kami...
e-Book ini didownload dari www.ibnumajjah.com

Senin, 16 Mei 2016

A L - H A K I I M Yang Maha Bijaksana



Al-Hakiim
(Yang Mahabijaksana)

Firman Allah عزّوجلّ:
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْـحَكِيمُ الْـخَبِيرُ
"Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'aam/6: 18)
Dia عزّوجلّ al-Hakiim yang disifati dengan kebijaksanaan yang sempurna dan kesempurnaan hukum di antara makhluk. Maka al-Hakiim yaitu yang memiliki ilmu yang luas dan mengetahui dasar (permulaan) segala perkara dan akibatnya, pujian yang luas, qudrat yang sempurna, rahmat yang melimpah. Dialah yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, menempatkannya di tempat yang pantas pada ciptaan dan perintah-Nya. Maka tiada ditujukan kepada-Nya pertanyaan (sebagai protes) dan tiada cela dalam kebijaksanaan-Nya.


Kebijaksanaan-Nya ada dua:
Pertama: Kebijaksanaan pada makhluk-Nya.
Dia menciptakan makhluk dengan benar dan mengandung kebenaran. Maksud dan tujuan-Nya adalah benar. Dia menciptakan semua makhluk dengan sebaik-baik susunan, mengaturnya dengan aturan yang sempurna, memberikan setiap makhluk ciptaan-Nya yang pantas dengannya. Bahkan, la memberikan setiap bagian dari bagian tubuh makhluk dan setiap anggota dari anggota tubuh makhluk hidup corak dan bentuknya. Seseorang tidak akan melihat pada ciptaan-Nya cela/aib, kekurangan dan sia-sia.
Jika berkumpul semua akal makhluk dari yang pertama sampai yang terakhir untuk menciptakan (yang belum pernah ada) seperti ciptaan Allah عزّوجلّ yang bersifat Rahmaan, atau yang mendekati sesuatu yang la ciptakan di alam semesta berupa keindahan, keteraturan, dan kokoh, niscaya mereka tidak akan mampu. Dari mana adanya kemampuan bagi mereka atas yang demikian itu?
Cukuplah orang-orang yang berakal dan bijaksana dari mereka mengenal kebijaksanaan-Nya yang sangat banyak dan mengetahui sebagian keelokan dan kekokohan yang ada padanya. Ini diketahui dengan pasti dengan diketahui kebesaran-Nya, sifat-Nya yang sempurna, dan kebijaksanaan-Nya yang terus-menerus dalam ciptaan dan perintah. Dia telah memberikan tantangan dan memerintahkan mereka agar berpikir dan terus berpikir apakah mereka menemukan aib/cela atau kekurangan dalam ciptaan-Nya. Sesungguhnya pemikiran akan tumpul dan lemah untuk memberi kritik terhadap sesuatu dari ciptaan-Nya.

Kedua: Kebijaksanaan pada syari'at dan perintah-Nya.
Sesungguhnya Allah عزّوجلّ menetapkan syari'at, menurunkan Kitab, dan mengutus para Rasul agar semua hamba mengenal dan menyembah-Nya. Adakah kebijaksanaan yang lebih besar dari ini? Adakah karunia dan kemuliaan yang lebih agung dari ini? Sesungguhnya mengenal dan menyembah Allah عزّوجلّ, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, beramal dan memuji-Nya dengan ikhlas, bersyukur dan memuji kepada-Nya merupakan pemberian yang paling utama dari-Nya bagi para hamba secara mutlak, karunia yang paling besar bagi orang yang diberi nikmat seperti itu dan keberuntungan serta kebahagiaan yang paling sempurna untuk hati dan jiwa (ruh), sebagaimana hal itu merupakan satu-satunya sebab untuk mencapai kebahagiaan yang abadi dan kesenangan yang kekal. Andaikan tidak ada dalam perintah dan syari'at-Nya, kecuali hikmah yang besar ini, yang merupakan dasar segala kebaikan, kenikmatan yang paling sempurna, dan karenanyalah diciptakan makhluk, pembalasan, dan diciptakan Surga dan Neraka, niscaya hal itu sudah cukup dan memadai.
Syari'at dan agama-Nya meliputi segala kebaikan. Berita-Nya memberikan ilmu, keyakinan, iman, dan 'aqidah yang shahih kepada hati. Hati terus konsisten dengannya sehingga hilang penyimpangannya. Hal itu membuahkan setiap ciptaan yang indah, amal yang shalih, petunjuk, dan nasehat. Semua perintah dan larangan-Nya meliputi puncak kebijaksanaan dan kebaikan serta memperbaiki agama dan dunia. Dia tidak memerintah kecuali dengan sesuatu, yang mutlak mashlahatnya (kebaikannya) atau yang paling dominan. Dia tidak melarang sesuatu, kecuali hal yang keburukannya/kerusakannya sangat mutlak atau yang paling dominan.
Sebagian dari hikmah syari'at Islam bahwa ia adalah puncak untuk perbaikan hati, akhlak, perbuatan, dan istiqamah (konsisten) di jalan yang lurus. Dia adalah puncak untuk perbaikan dunia. Tidak akan baik urusan dunia dengan kebaikan yang hakiki (yang sebenar-benarnya), kecuali dengan agama yang hak, yang dibawa oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Hal ini disaksikan dan dirasakan oleh setiap orang yang berakal. Maka ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم, ketika melaksanakan ajaran agama ini, baik ushul (dasar) maupun furu'-nya (cabangnya), serta semua petunjuk dan nasihat, mereka berada di puncak keistiqamahan dan kebaikan. Tatkala mereka berpaling dari ajaran agama ini, meninggalkan kebanyakan dari petunjuknya (agama), dan tidak mencari petunjuk dengan ajarannya yang tinggi, maka berpalinglah dunia mereka sebagaimana agama mereka telah menyimpang.
Demikian pula perhatikanlah ummat yang lain, yang telah sampai pada kekuatan, peradaban, dan kemajuan yang sangat mengagumkan. Akan tetapi, ketika semua itu kosong dari nilai agama, rahmat, dan keadilannya, bahaya dari penemuan mereka lebih besar dari manfaatnya, kejahatannya lebih banyak dari kebaikannya. Para pakar, pemerintah, dan pemimpin mereka tidak mampu membendung bahaya yang diakibatkannya, dan mereka tidak akan pernah mampu membendung hal itu selama keadaan mereka tidak berubah. Oleh karena itu, merupakan hikmah-Nya bahwasanya yang dibawa oleh Muhammad صلى الله عليه وسلم berupa agama dan al-Qur’an yang mulia merupakan bukti yang paling besar atas kejujurannya dan kebenaran yang dibawanya karena keadaan-Nya sebagai pemberi keputusan yang sempurna yang tidak akan ada, kecuali dengan-Nya.
Sebagai kesimpulan, al-Hakiim berhubungan dengan semua makhluk dan syara'. Semuanya berada pada puncak kebijaksanaan. Dia al-Hakiim pada semua hukum yang bersifat qadar (keputusan/ ketentuan), syara' dan pembalasan. Perbedaan antara hukum-hukum qadar dan syara', yaitu: Sesunggguhnya qadar berhubungan dengan yang diadakan, dibentuk, dan ditentukan, dan sesunggguhnya apa yang dikehendaki-Nya, niscaya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, niscaya tidak akan terjadi. Sedangkan hukum-hukum syara' berhubungan dengan syari'at-Nya. Hamba Allah tidak lepas dari dua hal tersebut atau dari salah satunya. Siapa di antara mereka yang melakukan perbuatan yang dicintai dan diridhai-Nya, sungguh telah terkumpul padanya dua kebijaksanaan, dan siapa yang melakukan perbuatan yang berlawanan dari hal itu, sungguh didapatkan padanya kebijaksanaan qadar saja. Sesungguhnya apa yang dilakukannya terjadi dengan qadha dan qadar-Nya dan tidak ada dalam hukum syar'i, karena dia telah meninggalkan amal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Kebaikan dan kejahatan, taat dan maksiat, semuanya berhubungan dan mengikuti hukum qadar, Amal yang dicintai Allah عزّوجلّ ialah yang mengikuti hukum syar'i dan yang berhubungan dengannya. Wallaahu a'lam. []

Publication : 1437 H_2016 M

Al-Hakiim
Oleh : Syaikh Said bin 'Ali Wahf al-Qahthani

Disalin dari Syarah Asma'ul Husna hal. 106-110, Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i
e-Book ini didownload dari www.ibnumajjah.wordpress.com

Minggu, 15 Mei 2016

Cara Meraih Kekuatan Amal Shalih



Oleh : Syaikh Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiriy hafidzahullah

Dialah Allah subhanahu wa ta’ala pencipta segala sesuatu serta pencipta kekuatan pada amalan shalih.

Allah subhanah jadikan kekuatan pada amal shalih bertingkat-tingkat sebagaimana pada selain nya.

Tauhid memiliki kekuatan,
Iman memiliki kekuatan,
Ikhlas memiliki kekuatan,
Shalat memiliki kekuatan,
Thaharah memiliki kekuatan,
Zakat memiliki kekuatan,
Puasa memiliki kekuatan,
Haji memiliki kekuatan,
Doa memiliki kekuatan,
Dzikir memiliki kekuatan,
Sabar memiliki kekuatan,
Takwa memiliki kekuatan,
Jujur memiliki kekuatan,
Ihsan memiliki kekuatan,
Infaq memiliki kekuatan,
Memaafkan orang lain memiliki kekuatan,
Syukur memiliki kekuatan,
Demikian seterusnya.

Siapa saja yang memiliki kekuatan amal niscaya Allah akan tundukkan baginya kekuatan para makhluk.

Firman Allah ta’ala,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)

Dalam ayat lain Allah subhanah berfirman,

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud keutamaan dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya.” (QS. Saba: 10)

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَمَنْ يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS.Saba: 12)

Maha suci Dzat yang Maha kuat lagi Perkasa yang telah menciptakan kekuatan pada makhlukNya juga kekuatan pada amal shalih.

Tidak ada yang mampu meraih kekuatan amal kecuali para Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan orang-orang beriman.

Sungguh Allah Ta’ala mengutus para rasul agar memerintahkan manusia beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun serta menunjukkan mereka (jalan lurus) agar memperoleh ketetapan-ketetapan Allah dan perbendaharaan Allah dengan iman dan amal shalih.

Sesuatu yang disisi Allah tidak akan diraih kecuali dengan ketaatan pada Nya.
Dan ketaatan tidak akan terwujud kecuali dengan iman dan amal sebagaimana yang diajarkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

****
Sumber: Materi daurah online Fiqh Zaadil Qulub Fi Ramadhan, Syaikh Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiriy.
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com
Artikel wanitasalihah.com

Jumat, 13 Mei 2016




[Pin It]

# Mengapa Allah Subhanah Menyerupakan Dunia dengan Air? #

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan dunia dengan air, pada firman-Nya Ta’ala,

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ

“Berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit.” (QS. Al-Kahfi: 45)

Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,

“Para ahli hikmah berkata, ‘Allah menyerupakan dunia dengan air karena beberapa alasan:

1. Air tidak diam di satu tempat, demikian pula dunia, tidak menetap pada satu keadaan saja.

2. Air itu bisa habis, tidak selalu ada. Demikian pula dunia — akan sirna, tidaklah kekal.

3. Air, siapa pun yang memasukinya pasti akan basah. Seperti itu pula dunia, tidak seorang pun yang sama sekali terbebas dari ujian dan bencananya.

4. Jika air tidak terlalu melimpah, dia akan bermanfaat dan mampu menumbuhkan tanaman. Jika melampaui batas akan membahayakan dan membinasakan. Demikianlah dunia; orang yang mengambil dunia secukupnya maka dia akan dapat manfaat, namun jika berlebihan maka akan membahayakannya.'”

**

Sumber: Jami’ li Ahkamil Qur’an, karya Imam Al-Qurthubi, 13:289.

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com

Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits